Minggu, 27 Januari 2008

Apakah ANAK SAYA BERMASALAH?


Kegelisahan Orang Tua

Apakah anak saya bermasalah? Pertanyaan itu sering sekali terdengar diucapkan oleh para orang tua, terutama para Ibu. Umumnya mereka khawatir karena anak-anak mereka dinilai “berbeda” dengan rekan-rekan mereka. Entah dari prestasinya, sikap dan perilakunya, sifatnya, sampai dengan fisiknya. Jeli sekali pengamatan para orang tua, jika sudah menyangkut perbedaan pada anak-anaknya. Selanjutnya, orang tua cenderung berpikir “anak saya membutuhkan terapi” Artikel ini, tidak mengajak pembaca untuk mengenal ciri-ciri anak bermasalah, namun mengajak pembaca untuk memahami, dari mana munculnya keresahan tersebut.

Fakta versus persepsi pribadi

Tidak semua perbedaan yang kita lihat pada anak merupakan hal yang negatif, dan tidak semua juga positif. Orang tua seringkali lupa, bahwa ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi perbedaan setiap anak.

a. Faktor biologis & genetika (keturunan)
b. Faktor pola asuh
c. Faktor lingkungan
d. Faktor pendidikan
e. Faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari)

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kondisi persis sama, bahkan kakak beradik atau anak kembar sekali pun, mengalami kondisi yang berbeda ketika mereka tumbuh dan dibesarkan. Intinya, tak ada satu manusia pun di dunia yang segala sesuatunya sama persis.

Tidak setiap perbedaan berdampak destruktif, negatif atau pun patologis. Tergantung dari kaca mata yang melihatnya :

1. Orientasi fisiologis
Tuhan menciptakan manusia, dengan berbagai variasi dan keunikannya. Semua itu memperindah manusia itu sendiri. Namun, manusia sendiri lah yang seringkali terlalu ikut campur tangan dalam merekayasa dirinya. Misalnya, melakukan operasi plastik supaya wajahnya sama seperti artis penyanyi idolanya. Padahal, perbedaan itu dimaksudkan untuk menandai ke-khas-an setiap manusia. Tuhan sudah memikirkan jauh ke depan, agar manusia tidak membutuhkan kode, nomer urut atau pun abjad untuk membedakan diri mereka satu dengan yang lainnya. Manusia bukan produk pabrikan. Jadi, tidak heran jika anak punya tampang dan penampang yang berbeda-beda, hasil sintesa antara orang tua plus, karya seni & rancangan rencana Tuhan serta dipengaruhi proses tumbuh kembang.
Kelainan fisik orang bilang “cacat”, sesungguhnya tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kekurangan sang manusia itu. Sebab, kepenuhan dan kesempurnaan manusia, tidak bisa hanya dilihat dari kesempurnaan fisik, melainkan dari totalitas sebagai manusia lahir dan batin. Tiadanya satu unsur di dalam fisiknya, menandakan adanya elemen lain yang menyempurnakan totalitas kemanusiaannya. Hanya, sayangnya orang sering berfokus pada kekurangan dan lupa akan elemen lain yang Tuhan sudah “tanamkan” untuk menyempurnakan manusia ciptaan yang dikasihiNya.
Demikian juga dengan perbedaan fisik anak-anak. Banyak kombinasi unsur yang mempengaruhi perbedaan itu, baik unsur keturunan, gizi maupun faktor “latihan” fisik selama tumbuh kembang anak. Jika orang tua menginginkan anaknya sama persis dengan anak lain yang dianggap “ideal”, maka segala sesuatunya (kondisi fisik dan psikologis calon orang tua, termasuk nenek kakek yang melahirkan orang tua, sifat dan karakter, ciri fisiologis, kondisi rumah tangga, makanan dan gizi, dsb) harus sama persis jauh sebelum masa konsepsi. Apakah mungkin ?
Kita para orang tua yang sering kali terlalu panik ketika melihat kecepatan perkembangan anak kita berbeda dari yang lain. Bahkan, sangat cemas ketika melihat perbedaan fisik anak (anak kita lebih kurus atau lebih pendek dari temannya) dan lupa bahwa perbedaan itu juga disebabkan oleh perbedaan kita, para orang tua. Orang tua sering mudah menyalahkan anak dan menganggap anaknya “tidak pandai”, malas, terlambat, terbelakang, lembek, lemah, jelek, dsb dan akhirnya mendorong / menuntut anak untuk cepat-cepat menyaingi minimal menjadi seperti ukuran ideal orang tua. Memang, dampak positifnya, bisa jadi ada perbaikan gizi dan perbaikan kegiatan untuk pengembangan fisik. Tapi, negatifnya, orang tua terlalu melihat pada hasil akhir dan lupa luput melihat keajaiban kecil yang terjadi setiap saat di masa perkembangan anak, sesuai dengan proses kematangan (fisik-fisiologis) anak mereka sendiri. Orang tua jadi tidak menghargai upaya anak, dan tidak menghargai campur tangan Tuhan yang membantu tumbuh kembang anak karena orang tua terlampau ngotot dan fokus pada hasil.

2. Orientasi psikologis
Manusia senang sekali menilai dan membandingkan segala sesuatu, sepertinya tidak pernah menemukan titik temu antara kepuasan, keinginan ideal dengan kenyataan. Masalahnya, jika yang dinilai dan dibicarakan adalah “manusia” dan manusia itu adalah “anak”, persoalan sering jadi rumit. Anak adalah ibarat sebuah diamond berlian, yang terdiri dari ratusan bisa lebih irisan, sudut, facets. Setiap sinar yang masuk, akan menghasilkan dimensi warna tersendiri. Dan, tidak ada diamond yang secara alami, memiliki irisan yang sama persis.

Pribadi, identitas dan diri seorang anak, akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas (pola asuh, dsb) dan faktor di atas juga sangat bervariasi dan berbeda derajatnya satu sama lainnya. Contoh : pola asuh orang tua, mempengaruhi sifat, karakter kepribadian anak. Pola asuh orang tua, pada dasarnya merupakan sintesa hasil dinamika dua pribadi (ayah dan ibu) dalam mengasuh, mendidik dan menghadapi anak. Jika hendak diperdalam lagi, pribadi ayah yang menghasilkan pola sikap tertentu terhadap anak juga hasil dari pola asuh orang tua sang ayah.
Jadi, ketika ada orang tua mempertanyakan : “kenapa ya kok sifat anak saya seperti itu?” sebenarnya, yang pertama kali harus dilakukan, adalah bercermin pada diri sendiri dan kilas balik ke belakang bagaimana ayah dan ibu kita (dan kepribadian mereka) mempengaruhi pembentukan kepribadian kita para orang tua sehingga seringkali tanpa sadar kita lah yang mengarahkan anak untuk mengembangkan sifat-karakter-kebiasaan-perilaku dan segala sesuatu seperti diri kita, bahkan, sedapat mungkin lebih sempurna dari diri kita. Kita lupa, bahwa anak punya jalur, jalan hidup, panggilan hidup dan pribadi dan identitas nya sendiri, misi hidup yang berbeda dari orang tua, yang di-desain khusus sebelum dirinya menjelajah dunia. Orang tua, tanpa sadar menjadikan anaknya extended version.

Masalahnya kemudian, ketika anak tidak berkembang sesuai dengan “buku panduan”, orang tua lantas buru-buru mendiagnosa bahwa anaknya punya masalah, kelainan atau pun kelemahan yang harus segera di atasi dengan cara di - treatment. Padahal, orang tua sekali lagi lupa, bahwa mereka menggunakan acuan persepsi diri subyektif plus ambisi pribadi, dalam menilai, mengukur perkembangan kejiwaan dan pribadi anak. Yang kasihan, ketika anak mengalami masalah, misalnya masalah emosional (resah, jadi pendiam, atau pemarah, mudah menangis, sulit mengendalikan emosi, dsb) orang tua hanya melihatnya secara parsial, bahwa “anak saya bermasalah” dan “anak saya membutuhkan treatment”. Orang tua seringkali lupa, bahwa anak dan reaksinya, antara lain merupakan hasil sintesa dari 2 kepribadian, pola sikap dan karakter orang tua yang berbeda, termasuk dan tersangkut pula di dalamnya masalah kejiwaan sang orang tua. Jadi, jika anak kita terlihat memiliki masalah emosional, jangan tergesa-gesa untuk mendapatkan instant treatment buat anak. Karena, ibarat sehelai daun menguning, maka bukan daun itu sendiri yang menyebabkannya, melainkan kesatuan sistem pohon turut serta dalam proses “penguningan”. Artinya, periksa dulu diri kita masing-masing, dan kemudian periksa hubungan kita dengan pasangan dan dengan anak. Segala sesuatu berawal dari situ, khususnya untuk masalah emosional non medis / physiologis (misal, kelainan otak).

Pak Bu, sebelum kita menganggap anak kita bermasalah, lebih baik kita evaluasi beberapa hal terlebih dahulu :
  1. Apa yang sedang terjadi di dalam keluarga : Apakah ada perubahan dalam keluarga sehingga merubah tatanan, kebiasaan atau pun stabilitas keluarga.
  2. Apakah yang sedang dialami anak di sekolah : Apakah ada masalah, tantangan atau kesulitan yang dihadapi anak di sekolah
  3. Bagaimakah pola komunikasi di rumah, antara orang tua dan antara anak dengan orang tua? Pola komunikasi akan turut mempengaruhi kondisi kejiwaan anak, secara langsung dan tak langsung. Anak yang terbiasa mengekspresikan diri apa adanya, memiliki freedom to be and to fail environment, akan lebih rileks dalam menghadapi kesulitan karena dia bisa membicarakannya pada orang tua, tanpa dibayangi rasa takut, malu atau pun merasa bersalah karena dirinya tak mampu memenuhi harapan orang tua
  4. Bagaimakah sifat kita masing-masing sebagai orang tua? Dan bagaimana pola pemecahan masalah yang biasa kita lakukan ? Bercerminlah pada diri sendiri. Apakah ada kesamaan ciri, pola, elemen antara orang tua dengan anak karena anak tanpa sadar juga belajar dari dan meniru orang tua
  5. Apakah yang ingin diungkapkan anak melalui permasalahannya? Setiap masalah yang terjadi, mengajarkan kita sebuah nilai kehidupan. Kalau kita hanya terfokus pada dampaknya (seringkali dampaknya pada diri kita para orang tua, yakni : rasa malu kalau anaknya “ketinggalan”, “bermasalah” dsb), kita jadi luput mengambil pelajaran dan “pesan” yang harusnya kita dapatkan dari masalah yang sedang menimpa anak maupun diri kita. Misalnya, anak resah, gelisah, sulit konsentrasi, mudah marah dan menangis, sulit kerja sama dengan temannya di kelas alih-alih melihat apa yang ingin diungkapkannya melalui “unspoken language”, orang tua sering buru-buru mencari orang yang bisa “menyembuhkan” atau “mengembalikan” anak mereka ke kondisi “normal”. Tapi, ketika orang tua juga diminta untuk terlibat secara aktif, bahkan ikut “di-therapy”, kontan saja mereka menolak karena merasa “tidak bermasalah” dan hanya “anak saya yang bermasalah”. Jika demikian, orang tua akan sulit memahami permasalahan yang sesungguhnya, bahkan mungkin sekali tidak ingin tahu permasalahan yang sesungguhnya, jika mereka lah yang harus “dikutak katik”, harus self-healing. Siap-siap saja untuk menghadapi masalah demi masalah yang kurang lebih serupa dengan intensitas yang semakin tinggi hanya karena tidak menangkap “pesan” kehidupan yang harus dipahami supaya memperoleh kehidupan yang lebih berkualitas dan anak-anak yang lebih sehat jasmani dan rohani.

(Sumber : jacinta F Rini, e-psikologi)

Tidak ada komentar: